Assalamualaikum,
Sedih rasanya mendengar suara orang tua di seberang sana. Sebelum solat Ied, aku memutuskan untuk menelepon orang tua di Jawa. Ini lebaran pertama jauh dari keluarga inti dan keluarga besar. Setiap tahunnya selalu pergi mudik ke rumah Mbah putri dan Mbah Kakung di Jawa. Always.
Suara takbir di hall gedung primary School Westal benar-benar membuatku tak kuasa menahan tangis. Mamah, Papah..I miss you!
Homesick yaiy!
Big girl doesn't cry deh ya. My heart kept saying it loudly (loudly? gimana bisa coba?). Saking ku keukeuhna eta pengen nangis.
Anyway, stop talking about the sadness!
Setelah solat ied dan morning tea di Westal, salah satu keluarga dari Yogya berbaik hati mau menampung kami di rumahnya. Mungkin wajah kami memelas gitu saking pengennya makan ketupat.Hihihi. Ada undangan gitu deh dari keluarganya murid ;p
Jadi ceritanya Aku dan teman-teman pernah mengikuti salah satu Indonesian Immersion Camp di Philip island. Pesertanya adalah lima sekolah dengan siswa kelas 8-10 yang belajar bahasa Indonesia di daerah Victoria selatan. Nah, pas di sana ada murid dengan wajah Indo dan memakai kerudung. Sebut saja Mutia (emang nama beneran loh). Dia siswa kelas 9 di salah satu sekolah di Melbourne. Walaupun dia asli orang Indo, tapi logat Ausinya kental sekali. Gue aja kalah sama dia.haha..ternyata eh ternyata dia tinggal di Australia sudah dari kelas 4 SD. Percampuran logat bahasa Indonesia dan Inggris Ausinya membuatku ngga percaya kalo dia orang Indonesia. Hehehe.
Nah ternyata keluarga Mutia ini adalah salah satu jamaah di Mesjid Westall. Makanya waktu kami menghubungi Mutia untuk takbiran di sana, keluarganya mengundang kami untuk berkunjung di hari raya. Kami seneng banget pas diajakin. Maklum, sebagai anak rantau di negeri orang kami cuma punya tujuan menghabiskan waktu lebaran di Embassy (itu juga karena ada open house).
Ibunda Mutia adalah salah satu mahasiswa Phd International Law di Monash University. Walaupun sudah lama tinggal di negeri orang, aksen Jawa masih terasa kental. Berasa pulang ke Jawa deh. Suasana rumahnya juga Indonesia banget. Entah mungkin karena isinya orang Indonesia semua kali ya. Bener deh, pas masuk ke rumahnya itu berasa berkunjung ke salah satu saudara di Jawa. Homey banget deh.
Ayah Mutia yang memang bekerja di pemerintahan sangat mengerti betul perkembangan negaranya. Aku ngga begitu ngerti dengan bidang pekerjaannya. Yang pasti beliau lebih mirip konsultan untuk negara Ausi untuk bagian penanaman saham. Beliau juga sebagai analis bisnis baik di dalam negeri maupun luar. Mudah-mudahan aja makes sense nih penjelasannya.
Yang keren adalah mereka tetap menanamkan ilmu agama yang kuat kepada anak-anaknya. "Membesarkan anak di sini tidak mudah. Makanya harus tetap didekatkan dengan ilmu agama. Untung saja suka ada pengajian di mesjid Westall. Jadi anak kami terdidik juga agamanya". Ngeri juga ya kalau dibiarkan begitu saja, mengingat pergaulan bebas yang semarak di kalangan remaja Ausi. Alhamdulillah walaupun terbilang masih belia, Mutia dan adiknya sudah mau pakai jilbab. Mutia juga tidak pernah merasa malu memakai jilbab diantara teman-temannya. Aku malah pernah liat dia dengan cueknya memakai bawahan mukenah pada saat dinner di camp. "I wear legging and it's too tight!", she said. Subhanallah, ini anak hebat banget.
 |
| with Mutia and sister,Pak Widodo, Bu Pudak, Akbar, Teja, Rizki (MIBT Students) |
 |
| photographer kang Eduardo Morera juga mau dipoto (lihat yang tengah) |
kalau ada undangan maen ke rumahnya lagi, serius deh aku ngga nolak. Secara di sana makan banyak banget. Ada lontong (mirip lontong), opor ayam, kerupuk, kue lebaran kaya castangle dan nastar, black forest, dan es buah. Yummm...Malah dibekelin opor ayam pula. Bener-bener ngerampok makanan orang nih kita. Tapi alhamdulillah masih merasakan nikmatnya berkumpul dengan orang Indonesia dan makan makanan lebaran. Benar-benar berada seperti di tengah keluarga.
Alhamdulillahirabbil 'alamiin ya Allah atas nikmat yang Kau berikan di hari yang fitri ini.
Kebayang deh ya itu MIBT students yang masih harus menghabiskan 3 tahun ke depan di sini dan pastinya lebaran nanti mereka juga bakal tetap jauh dari keluarga. Kalau mereka, big boys don't cry!
Happy Iedul Fitri ;)
Mohon maaf lahir dan batin.
Wassalam,
Moethexplorer