15 October 2012

Bonjour!

Assalamualaikum,

Haihaihaihai! kali ini bahasannya sedikit agak serius nih. It's about education!

Jadi ceritanya saya dapet kesempatan untuk menghadiri Billingual School Workshop di Camberwell Primary School, Melbourne. Sekolah yang mempelajari bahasa Prancis sebagai bahasa kedua ini merupakan salah satu sekolah Bilingual terbaik di Victoria, bahkan Australia. The workshop entitled Improving Student Learning Outcomes in Bilingual Programs focus on developing skills in teaching and assessing Reading as well as provided teachers with an opprtunity to observe the French Bilingual Program.


taken from http://www.educationmelbourne.com.au/Eastern-Melbourne/Camberwell/Camberwell-Primary-School/36114


taken from Panoramio.com 
Tidak semua sekolah di Australia mendapatkan kesempatan hadir dalam workshop ini. Namanya saja bilingual program, berarti yang diundang hanya sekolah-sekolah bilingual. I was so lucky teaching at Benalla East Primary School, which is Indonesian Bilingual School. Di Australia, guru mendapatkan kesempatan untuk Professional Development (PD)  atau peningkatan keprofesionalan yakni dengan menghadiri workshop/conference secara gratis (sekolah yang membiayai). Saya pun sebagai asisten memiliki kesempatan yang sama. Ini merupakan PD ke-5 yang saya hadiri. Alhamdulillah saya belajar banyak hal melalui PD ini.

Anyway, workshop kali ini merupakan the best of the best! kenapa? the school is just amazing. The teachers speak in French all the time and so do the students - No English! It is very interesting workshop because the speakers did not just explain theoretically in front of the participants. We also had experience coming to each class and watched the students learning language directly. 

My first class was preparation (prep) class. The kids are around 6 years old. You know what? they just speak in French. Waktu itu mereka lagi belajar reading. Siswa dibagi menjadi tiga grup dan masing-masing mengerjakan tugas yang berbeda. Saya mendekati kelompok yang penuh dengan pensil berwarna. Rupanya mereka diberi tugas menggunting 'shapes', menempelkan pada buku, dan mewarnai gambar bentuknya. Kelompok yang kedua sibuk dengan latihan mengucapkan (pronounciation) dengan seorang guru yang menjelaskan dengan bahasa Prancis. Yang paling menakjubkan lagi adalah kelompok terakhir yang sedang berlatih membaca (literacy). Kelompok tersebut membahas sebuah buku cerita bergambar dalam bahasa Prancis. Sepertinya haram hukumnya bagi guru untuk berbicara bahasa Inggris di kelas. Hahahah..Keren nih sekolah.

Di kelas ini, tidak jarang siswa menjawab dengan bahasa Inggris. Lucu sekali mendengar guru dan siswa bercakap-cakap dengan dua bahasa yang beda. Yah namanya juga kelas prep, masih maklum deh. Sang guru berbicara bahasa target dan siswanya menjawab dengan bahasa Inggris. Namun yang pasti adalah the teachers try to build students' target language. Bahkan tidak jarang mereka menggunakan bahasa tubuh untuk membuat siswa mengerti. 

Kebayang kan, anak prep saja bisa berbahasa Prancis apalagi siswa kelas 6-nya. Ya benar saja, ketika saya masuk ke kelas yang lebih tinggi, yakni kelas 5 dan 6, ternyata mereka menggunakan bahasa Prancis 100%, bahkan saat berbicara dengan teman sekelasnya. Gile bener dah. Cas cis cus ces cos. Saya saja yang sebesar gini cuma ngerti bonjour doang.haha.

Ternyata kesuksesan sekolah ini pun terletak pada literacy programnya, dimana guru mengajarkan reading, writing, dan numeracy melalui bahasa prancis. Saat itu siswa kelas 6 sedang melakukan persiapan untuk presentasi. Jadi siswa dibagi menjadi dua kelompok untuk mengerjakan tugas yang berbeda. Kelompok pertama melakukan 'reading' bersama dengan gurunya menggunakan IPad, tentu saja menggunakan bahasa target. Kelompok kedua mendapatkan independent assignment yakni menyiapkan presentasi dengan cara yang berbeda. Ada beberapa macam how to present the topic yaitu dengan menyanyi, mendeskripsikan, menggunakan gesture tubuh, akting, story book, story teller, dan drama. Setiap siswa harus memilih satu dan mempersiapkannya untuk sharing session. Topiknya bisa apapun juga, sesuka hati siswa tersebut. Hal ini mendorong siswa untuk berpikir dan berekspresi lebih bebas disesuaikan dengan kesukaan mereka. Kewl!

Setelah melakukan adventure di setiap kelas, participants were divided to three groups and coming to the each spot at the hall. Semuanya tentang pembelajaran membaca, kali ini dalam mata pelajaran bahasa Inggris. Yang menarik adalah siswa yang akan belajar ketiga reading spots ini datang ke hall. Lagi dan lagi, speakers (teachers) tidak menjelaskan secara teori. Peserta melihat langsung pembelajaran reading itu seperti apa. It's like watching directly the teaching learning process in the classroom. Really really get the experience of teaching learning process! Really engaging.

The students are really brilliant. The teachers really make them becoming stars. Standing applause for both teachers and kiddos.

Entah kenapa jadi semakin terinspirasi untuk mengetahui pengajaran bahasa secara mendalam. Language is so complex but it could be more interesting, depending on the way teachers deliver the language itself. 

There are incredible teachers behind excellent students.and I wanna be the incredible one ;)

Cheers,
Muti

10 October 2012

Comfy Zone!

Rasanya baru kemarin saya menginjakkan kaki di belahan dunia yang penuh kangguru ini. Tidak sadar waktu berjalan dengan sangat cepat. Dipikir-pikir serem juga ya, kalau kata orang tua sih itu tandanya kiamat sudah dekat. Ya iyalah, mana mungkin kiamat menjauh. Yang saya rasakan memang sejak saya tinggal tinggal di sini, waktu itu berganti secepat kerlingan mata. Entah mungkin karena saya kerasan tinggal di sini kali ya. Temen-temen yang di Indonesia ngerasain hal yang sama nggak? 

Mendekati kepulangan ke tanah air membuat hati saya dag dig dug. Jujur saja, antara mau pulang dan tidak. heuheuheu.. yah, siapa sih yang ngga mau tinggal di negeri yang nyaman dan teratur seperti Australia. Pekerjaan (alhamdulillah) menjanjikan, masa depan dari segi hari tua terjamin (dengan adanya pensiunan), dan juga fasilitas semuanya oke. Walaupun setiap bulannya pendapatan selalu dipotong sepersekian puluh persen hanya untuk bayar pajak, asuransi, dan pensiunan, tapi semua itu akan berbalik ke kitanya loh. Semua akan balik lagi baik dalam bentuk uang maupun fasilitas. Saya hanya manusia normal yang juga masih memandang segalanya dari segi duniawi loh. hehe..

-Living in Australia is such living in comfy zone-

Ya, hampir semua orang Indonesia yang saya temui di sini mengatakan kalau tinggal di Ausi itu kaya hidup di zona nyaman. Ya iyalah gimana Melbourne ngga dijuluki the nicest city in the world tahun 2011 (versi The Economist Intelligence Unit's Global Livebility Report). And again it becomes the most livable cities in 2012. Well, walaupun saya tinggal di luar Melbourne tapi tetep aja kecipratan.hahha

Ngga heran juga banyak refugees yang berbondong-bondong datang dan menetap di Australia. Mungkin karena kenyamanan dan keamanannya. Pemerintahnya amat sangat melindungi warganya. Apalagi sama yang namanya anak-anak. Jangankan warga negaranya sendiri, orang luar yang mau menetap di sini untuk melindungi si anak dari ancaman negaranya pun akan dilindungi pemerintah. Makanya nih agak ribet juga kalau kerja di sekolah kaya saya yang berhubungan langsung dengan anak-anak. Kita harus memikirkan keselamatan, kesehatan, dan hak si anak. Jangan sampai si anak terluka atau tersakiti. Ini bukan cuma secara fisik saja ya, even hal-hal yang (dulu) menurut saya sepele seperti memfoto si anak dan mempublikasikannya tanpa izin orangtua pun bisa jadi kasus pelanggaran HAM. 

Anyway, balik lagi ke topik awal.Tinggal di zona nyaman ini bagi saya bisa ngasih sisi positive and negative. Positifnya ya hidup kita enak-enak aja - seperti yang saya jelaskan di atas. Minusnya, yang saya rasain sendiri jauh dari keluarga, teman-teman, dan sanak saudara. Serius, ngga enak juga loh. Apalagi setelah saya tau papah saya masuk Rumah Sakit karena menderita struk ringan. Ini membuat saya ingin pulang secepatnya.

Minus yang kedua adalah menghadapi ketakutan. Takut apa hayo?

Well, mungkin karena saya di sini menjadi kaum minoritas. Jangan salah sangka ya? Bukan berarti ini mengarah ke bullying nih. Kebetulan saya tinggal di kampungnya Oz. Haha..saya tinggal di kampung loh. Penduduknya saja hanya ada 2000 orang. Setiap saya ke luar rumah buat mejeng di cafe atau supermarket pasti banyak yang kenal. Dibilang enak ya enak banget deh. Saya satu-satunya muslim di sini. Jadi kaum minoritas takut ngga? Hmm..jujurnya ngga. Walaupun semua orang memandang kepala saya (jilbab) dengan aneh, saya merasa bangga. Walaupun saya harus curi-curi waktu buat solat di sekolah dan staf sekolah beserta siswa akan memperhatikan saya (saat solat), anehnya saya tidak merasa dikucilkan. Mereka (orang Ausi) bahkan ada yang sangat menyukai mukena saya. It's beautiful - they said. 

Saya ngga merasa ada masalah menjadi minoritas di tempat saya ini. Toh orang-orang di sini sangat menghargai sesamanya. Hablu minannas mereka bagus banget. Mungkin kalo ada nilai PKN, mereka bakal dapet nilai 100 untuk sikap. Hanya saja yang membuat sedih justru perasaan takut terlalu memikirkan duniawi. Well, saya di sini memang belajar bagaimana lebih bertenggang rasa dan menghormati sesama. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, mereka benar-benar memahami dan menerapkan HAM. Perasaan takut justru muncul dari dalam diri saya sendiri. Bukan desakan atau faktor eksternal. Memang benar kata orangtua, hidup di negeri orang harus kuat-kuat iman. Kalau saya bilang, di sini cobaan ibadahnya lebih diuji. Internal ujian. Jangan sampai ibadah berkurang. Justru harus semakin meningkat. Ketakutan jauhnya iman itu yang paling saya takutkan. 

Dulu saya suka males kalau pergi ke pengajian, sekarang saya rindu datang ke pengajian. Saya rindu suara adzan. Saya rindu solat berjamaah. Saya rindu buka puasa sunnah bersama keluarga. Saya rindu tadarusan. Aaaah...saya rindu Allah! Jagalah terus iman saya ya Allah. 

Note :
Ini coretan ceritanya curhatan saya semata. Mungkin isinya agak sedikit ngalor ngidul. Maaf ya Readers!

Wassalam.

7 October 2012

Daylight Saving - Spring Time

Assalamualaikum.

Tadi pagi seperti biasa saya selalu menyapa teman-teman Asisten melalui Whatsapp. Tema pagi ini adalah kebingungan menentukan waktu - yakni jarum jam pada jam tangan, jam dinding, dan handphone yang berbeda. Lucu sekali.  Kenapa? karena sebagian wilayah Australia memajukan satu jam dari zona waktu normal. Nah loh?

Daylight Saving Time (DST) atau bahasa bekennya penghematan waktu di siang hari.  Kalau kata Wikipedia, Daylight Saving Time (DST) itu sistem yang ditujukan untuk menyimpan cahaya siang hari di musim panas. Hal ini dimaksudkan agar orang memanfaatkan waktu siang agar lebih produktif. Atau menyesuaikan waktu sekolah/kerja saat matahari masih bersinar. Bisa juga ya seperti itu. 

DST dilakukan di wilayah yang memiliki 4 musim seperti Australia, Canada, Amerika, dan Eropa. Mulai hari ini waktu akan dimajuin satu jam untuk sebagian wilayah Australia termasuk Victoria. Gampangnya pada bulan April - 6 Oktober kemarin, perbedaan waktu Victoria Australia dengan Indonesia adalah 3 jam lebih cepat Australia. Sekarang perbedaan waktu wilayah Victoria dan Indonesia menjadi 4 jam lebih cepat Victoria. Nah, ini yang namanya DST. Kalau tadinya jam menunjukkan pukul 7, harus dimajukan jadi pukul 8.

Lebih mudah lagi kalau hapenya disetting secara otomatis (AEST-Australian Eastern Standard Time) mengikuti waktu setempat. Jadi ngga perlu repot-repot memajukan waktu. Hape akan otomatis bertambah sejam pada jam 3 pagi tadi.

Untuk wilayah Australia, DST dimulai pada waktu spring time sampai akhir summer. Untuk tahun 2012 ini, penghematan waktu siang berawal pada 7 Oktober 2012 pukul 2 pagi dan berakhir pada tanggal 7 April 2013 saat summer time. Hal ini dikarenakan pada bulan-bulan tersebut, matahari terbit dan terbenam lebih lama dari waktu normal - katakanlah biasanya matahari terbit jam 6 dan terbenam jam 5 atau 6 sore, pada spring dan summer time matahari bisa terbit sekitar pukul 7 dan terbenam pukul 8. 

Perubahan juga terjadi untuk waktu solat. Sebelumnya waktu solat lima waktu kurang lebih sama seperti di Indonesia. Sekarang berbeda sekali. weirdo time! 

Fajr      5:15 AM
Sunrise  6:43 AM
Ishraq   6:58 AM
Dhuhr  1:04 PM
Asr      5:35 PM
Magrib 7:25 PM
Ishaa    8:52 PM

Bersyukur juga kita yang tinggal di Indonesia ngga harus repot-repot mengubah waktu jam. Letaknya yang terdapat di garus khatulistiwa membuat waktu matahari terbit dan terbenam menjadi stabil - dari jam 6 sampai jam 6 lagi. Terus seperti itu setiap tahunnya. Yah paling juga berubah beberapa menit saja. Perbedaan waktu Indonesia-Victoria yang semakin jauh 4 jam membuat saya harus mengatur ulang saat harus berkomunikasi dengan keluarga, pacar, dan teman di Indonesia. Biasanya waktu Indonesia sekitar jam 5 sore saat sang pacar pulang kerja/kuliah saya masih bisa chatting sampai jam 7 malam atau jam 10 malam waktu  Victoria. Lha ini, sepertinya harus diatur kembali. 

Enaknya Daylight Saving Time itu ya waktu terasa lebih cepat. Jadi tiga bulan menuju kepulangan ke Indonesia tidak akan terasa begitu lama deh ;) 


Ciao!

About Me

My photo
Benalla, Victoria, Australia
a 26 yo teacher student. Currently working on thesis in Teaching English and willing to graduate before June 2015. Love coffee, food, and movie. Trying to be grateful what I have and done.

Followers