Rasanya baru kemarin saya menginjakkan kaki di belahan dunia yang penuh kangguru ini. Tidak sadar waktu berjalan dengan sangat cepat. Dipikir-pikir serem juga ya, kalau kata orang tua sih itu tandanya kiamat sudah dekat. Ya iyalah, mana mungkin kiamat menjauh. Yang saya rasakan memang sejak saya tinggal tinggal di sini, waktu itu berganti secepat kerlingan mata. Entah mungkin karena saya kerasan tinggal di sini kali ya. Temen-temen yang di Indonesia ngerasain hal yang sama nggak?
Mendekati kepulangan ke tanah air membuat hati saya dag dig dug. Jujur saja, antara mau pulang dan tidak. heuheuheu.. yah, siapa sih yang ngga mau tinggal di negeri yang nyaman dan teratur seperti Australia. Pekerjaan (alhamdulillah) menjanjikan, masa depan dari segi hari tua terjamin (dengan adanya pensiunan), dan juga fasilitas semuanya oke. Walaupun setiap bulannya pendapatan selalu dipotong sepersekian puluh persen hanya untuk bayar pajak, asuransi, dan pensiunan, tapi semua itu akan berbalik ke kitanya loh. Semua akan balik lagi baik dalam bentuk uang maupun fasilitas. Saya hanya manusia normal yang juga masih memandang segalanya dari segi duniawi loh. hehe..
-Living in Australia is such living in comfy zone-
Ya, hampir semua orang Indonesia yang saya temui di sini mengatakan kalau tinggal di Ausi itu kaya hidup di zona nyaman. Ya iyalah gimana Melbourne ngga dijuluki the nicest city in the world tahun 2011 (versi The Economist Intelligence Unit's Global Livebility Report). And again it becomes the most livable cities in 2012. Well, walaupun saya tinggal di luar Melbourne tapi tetep aja kecipratan.hahha
Ngga heran juga banyak refugees yang berbondong-bondong datang dan menetap di Australia. Mungkin karena kenyamanan dan keamanannya. Pemerintahnya amat sangat melindungi warganya. Apalagi sama yang namanya anak-anak. Jangankan warga negaranya sendiri, orang luar yang mau menetap di sini untuk melindungi si anak dari ancaman negaranya pun akan dilindungi pemerintah. Makanya nih agak ribet juga kalau kerja di sekolah kaya saya yang berhubungan langsung dengan anak-anak. Kita harus memikirkan keselamatan, kesehatan, dan hak si anak. Jangan sampai si anak terluka atau tersakiti. Ini bukan cuma secara fisik saja ya, even hal-hal yang (dulu) menurut saya sepele seperti memfoto si anak dan mempublikasikannya tanpa izin orangtua pun bisa jadi kasus pelanggaran HAM.
Anyway, balik lagi ke topik awal.Tinggal di zona nyaman ini bagi saya bisa ngasih sisi positive and negative. Positifnya ya hidup kita enak-enak aja - seperti yang saya jelaskan di atas. Minusnya, yang saya rasain sendiri jauh dari keluarga, teman-teman, dan sanak saudara. Serius, ngga enak juga loh. Apalagi setelah saya tau papah saya masuk Rumah Sakit karena menderita struk ringan. Ini membuat saya ingin pulang secepatnya.
Minus yang kedua adalah menghadapi ketakutan. Takut apa hayo?
Well, mungkin karena saya di sini menjadi kaum minoritas. Jangan salah sangka ya? Bukan berarti ini mengarah ke bullying nih. Kebetulan saya tinggal di kampungnya Oz. Haha..saya tinggal di kampung loh. Penduduknya saja hanya ada 2000 orang. Setiap saya ke luar rumah buat mejeng di cafe atau supermarket pasti banyak yang kenal. Dibilang enak ya enak banget deh. Saya satu-satunya muslim di sini. Jadi kaum minoritas takut ngga? Hmm..jujurnya ngga. Walaupun semua orang memandang kepala saya (jilbab) dengan aneh, saya merasa bangga. Walaupun saya harus curi-curi waktu buat solat di sekolah dan staf sekolah beserta siswa akan memperhatikan saya (saat solat), anehnya saya tidak merasa dikucilkan. Mereka (orang Ausi) bahkan ada yang sangat menyukai mukena saya. It's beautiful - they said.
Saya ngga merasa ada masalah menjadi minoritas di tempat saya ini. Toh orang-orang di sini sangat menghargai sesamanya. Hablu minannas mereka bagus banget. Mungkin kalo ada nilai PKN, mereka bakal dapet nilai 100 untuk sikap. Hanya saja yang membuat sedih justru perasaan takut terlalu memikirkan duniawi. Well, saya di sini memang belajar bagaimana lebih bertenggang rasa dan menghormati sesama. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, mereka benar-benar memahami dan menerapkan HAM. Perasaan takut justru muncul dari dalam diri saya sendiri. Bukan desakan atau faktor eksternal. Memang benar kata orangtua, hidup di negeri orang harus kuat-kuat iman. Kalau saya bilang, di sini cobaan ibadahnya lebih diuji. Internal ujian. Jangan sampai ibadah berkurang. Justru harus semakin meningkat. Ketakutan jauhnya iman itu yang paling saya takutkan.
Dulu saya suka males kalau pergi ke pengajian, sekarang saya rindu datang ke pengajian. Saya rindu suara adzan. Saya rindu solat berjamaah. Saya rindu buka puasa sunnah bersama keluarga. Saya rindu tadarusan. Aaaah...saya rindu Allah! Jagalah terus iman saya ya Allah.
Note :
Ini coretan ceritanya curhatan saya semata. Mungkin isinya agak sedikit ngalor ngidul. Maaf ya Readers!
Wassalam.
No comments:
Post a Comment