18 December 2012

A Surprise from Teachers


I have just got a big surprise from my liaison and Indonesian teachers this evening. It was so touching and lots of tears. Ceritanya minggu yang lalu Mbak Heidi (lisaionku) mengirimkan pesan singkat, “Please have Tuesday free”. We are both so busy recently. It’s hard to catch up even we live at the same town.

Ya sesuai perjanjian aku mengosongkan jadwalku pada hari selasa. Aku baru tahu kalau ternyata malam selasa ini ada graduation night di Benalla East Primary School, sekolahku bekerja. I thought I might go to graduation night so I texted Heidi what’s on Tuesday.  She said to come a quarter to four at Rambling Rose Café, a very nice café in Benalla.

Today was a big day for me. Setelah bercapai-capai membuat gingerbread di cooking class pagi ini bersama Asi dan menghabiskan siang hari bersama Michelle membuat rekaman bahan ajar dilanjutkan dengan polycom teaching, akhirnya bersama Asi aku meluncur ke Rambling Rose Café. Dengan sangat baik hati sekali Asi bersedia mengantarku because she needs to go to Post Office.

my family gingerbread 
Dengan membawa empat trays gingerbread, aku duduk di kursi depan café sambil menunggu Mbak Heidi yang tak kunjung datang. Asi bersedia menemaniku sesaat sampai akhirnya Natalie -salah satu guru yang sedang belajar bahasa Indonesia- datang bersama keluarganya. Kami pun berbincang-bincang sejenak di café itu.

Tak terasa 15 menit sudah aku menunggu Mbak Heidi. Tiba-tiba dari arah belakang datanglah Mbak Heidi dan Asi. Mereka menggiring aku ke outdoor tables di belakang café. 
Guess what happened?

Yappariiiiii! I was very speechless when I saw lots of people there. Mostly, they are the teachers from Benalla East Primary School-the school where I worked. Kejutannya bukan itu saja, tiba-tiba kepala sekolah BEPS (Rick Martin) datang ke café juga. It was such a memorable surprised. Sampai 20 menit aku duduk dan masih dalam keadaan terkejut, beberapa orang special datang bergiliran. Ada Pak Steve (guru yang sedang belajar bahasa Indonesia seperti Natalie serta keluarga) dan juga beberapa guru BEPS.

Yang paling membuat aku terkejut lagi, Philip (kepala sekolah tempat aku mengajar polycom teaching) dan Rosalie (guru di tempat tersebut) datang juga. Whoaaaa, terharu banget deh banyak orang yang dateng. Alhasil nangis bombaylah aku (seperti biasa). Udah bingung aja sewaktu diminta bikin speech, saking terharunya aku ngga bisa ngomong apa-apa. Yang ada malah bercucuran air mata. Gosh, they are so nice. It is hard to leave this lovely people and town. I love you Benalla!

Kartu ucapan dan kado

Surat dari Pak Steve, Sophie, Aria, dan Tania. Bagus banget bahasa Indonesianya ;)
I love you guys. I'll keep you in my memory. always. You are such my new family in Benalla.
Hope we'll meet again!

Sampai jumpa.

Indonesian Language Assistant Experience

Living almost a year in Australia as a Indonesian Language Assistant at schools makes me experience new different things in teaching Bahasa Indonesia in the classroom. I have enjoyed working with teachers at Benalla College and Benalla East Primary School as my workplace. Helping students to learn Indonesian in both schools has been my biggest challenge here. Besides, the schools have given me a chance not only assisting teachers in their Indonesian classroom, but also introducing cultures like traditional dancing, music, cooking Indonesian food, Indonesian life style, and traditional games. I also help the students to perform some dances in some occasions. I also participated in some Professional Developments which have developed my knowledge about teaching methodology.

It has been a wonderful experience for me to get involve in ILPIC Program Activities such as Indonesian Study Group for teachers who learn Indonesian and Polycom Teaching. Teaching Indonesian through polycom to Mokoan Cluster Schools (Devenis, Thoona, and Broken Creek School) is the most challenging since this is their first year learning Indonesian. Apart from that, I also helped the teacher to run Indonesian Day (Cultural Day) at Mokoan Cluster on 5th December2012. Participating in Indonesian Immersion Camps in Victoria also becomes an unforgettable experience for me to enhance students’ language skill and promote Indonesian Culture.

Language Assistant Program ran by DEECD Victoria gives me many benefits in my life. I have improved my English skill by interacting and communicating with Australian people. I also learn about Australian curriculum and education which are really different from Indonesian education system. From the teachers, I also learn lots of methods in teaching English which I can bring to Indonesia. Get involved in Ballroom Dancing Club also gives me opportunity to know Benalla Community well. Hopefully this program also gives the benefits to schools and community. Thank you Benalla for having me and giving lots of amazing experience.


Mutiara Stepani - Indonesian Language Assistant 2012

11 November 2012

Sekolahku di Tempat Bule

-Apa yang menarik dari sekolah di Australia?-

Itu isi pesan singkat dari salah satu teman suatu hari. Entah mengapa setiap saya chatting dengan teman-teman, pertanyaan yang paling hot adalah mengenai pendidikan dan pembelajaran di sekolah Australia. Tidak heran memang, saya yang merupakan sarjana pendidikan universitas pendidikan Indonesia akan dibanjiri pertanyaan seputar dunia mengajar.

Banyak hal yang menarik selama saya mengajar di Benalla, kota kecil di Victoria. Kebetulan saya mengajar di Primary school dan College, masing-masing 2 hari. Saya juga membantu tiga sekolah kecil mengajar bahasa Indonesia melalui Poly com video (teleconference) dan juga sesekali membantu mengajar di sebuah sekolah di luar kota Benalla. 

Dari sekian sekolah yang saya kunjungi, ada banyak hal yang bisa saya share mengenai pembelajaran dan program sekolah tersebut. 
Primary School
  1. Kelas dibagi menjadi Junior (kelas preparation - kelas 2), Middle (kelas 3-4), dan Senior (kelas 5-6).
  2. Mata pelajaran yang dipelajari hanya literacy (Reading & Writing), numeracy, art, dan PE (Physical Education), dan LOTE (language Other Than English) seperti Bahasa Indonesia, Italian, French, Germany, etc. Kebetulan sekolah saya mempelajari bahasa Indonesia (that's the reason why I am here now).
  3. Reading time. Setiap pagi siswa diberi waktu 20 menit untuk membaca dengan 'Reading Buddy' dan 20 menit untuk silent reading di siang hari. Menariknya siswa bisa memilih buku cerita apapun yang mereka suka sesuai dengan level membacanya.
  4. integrated learning. Pembelajaran science, social, dan teknologi dipelajari melalui mata pelajaran pokok tersebut. 
  5. Different Theme. Dalam satu tahun terdri dari 4 term (@2.5 bulan). Setiap term, memiliki tema yang berbeda sesuai dengan musimnya, Misalnya term ketiga lalu, siswa kelas middle mempelajari 'Olympics'. So they did all the subjects (literacy, numeracy, PE, LOTE, art) based on the theme selected. 
  6. Learning to experiencePembelajaran lebih mengutamakan pada 'experience'. Pernah suatu hari anak kelas senior belajar tentang 'chook' atau ayam. Kebetulan di sekolah ada kandang ayam. Nah, setiap kelompok mengambil satu ayam kemudian dieksplor. Ada siswa yang membuat biografi si ayam mulai dari nama,  hobi, makanan favorit, berat badan, sampai lingkar badan. Yang lebih keren lagi, salah satu siswa juga diharuskan membuat puisi/lagu/cerita si chook tersebut. 
  7. Show and Tell. Setiap seminggu sekali, siswa diharuskan membawa satu barang (apapun). Kemudian menunjukkannya di depan kelas dan tell about it!
  8. Assembly. Some schools have assembly once a week every monday morning and some might be on friday afternoon. Kalau di Indonesia semacam upacara bendera kali ya. Cuma lebih santai saja dan ngga harus berdiri selama satu jam. Assembly ini menjadi ajang pertemuan antara guru, staff, siswa, dan orang tua. Biasanya ada performance dari siswa, pengumuman events, pemberian weekly rewards ke siswa, kemudian sharing aktivitas yang dilakukan anak-anak. Siapapun boleh maju ke depan buat cerita tentang weekend-nya loh. Untuk reward sendiri, siswa terpilih dari masing-masing kelas akan diberi sertifikat/hadiah setiap minggunya. Misalnya ada yang dapet reward for confidence because she did a great job for singing ;)
  9. Bilingual Assembly. Salah satu sekolah dasar yang saya ajar adalah sekolah bilindo (Bahasa Inggris- Bahasa Indonesia). Jadi siswa yang mengikuti program bilingual diharuskan mengikuti bilingual assembly seminggu sekali. Kegiatannya ya seputar kegiatan Indonesia : tari tradisional, membuat mask, permainan tradisional, congklak competition, watching movies, Agustusan Games, singing, dll. Biasanya assembly ini dibuka dengan tarian poco-poco dan sajojo. Selain itu, ada juga performance tari-tarian dari siswa seperti tari Indang, Tari tempurung, tari saman, dll.
Sekian dulu ya teman. Nanti kita sambung lagi.

10 November 2012

Talking with Aussie!

Assalamualaikum,

G'day, Muti!
How was your weekend?

Good morning, Muti!
How was Tasmania?

Hi, Muti!
How's your dancing class?

Hi, Possum!
Did you enjoy the firework last night?

That's all the questions that might be asked everyday. Apapun bisa jadi bahan pertanyaan dan obrolan. Bukan sekedar basa-basi belaka, tapi memang mereka ingin tahu dan share pengalaman. Saya acungi jempol deh buat orang Australia yang hebat dalam membuka percakapan (rec : hal ini yang harus saya pelajari benar). They're very intelligent! Pengetahuannya luas, jadi kalau bicara apapun juga nyambung. Bahan pembicaraannya dari mulai daily activities sampai travelling ke luar negeri, tanaman, bahkan kuda. Sepertinya 'tek-tok' pembicaraan sangat mulus layaknya bermain ping-pong.

Orang Australia bisa bertahan berjam-jam berbicara saat dinner. Pernah suatu hari saya diajak dinner ke rumah kerabat host-family dan I could say it was the longest dinner I've ever had. It started from 7 to 11 p.m. Ya makannya juga tiga tahap ; entree, main meals, dessert. Jarak antara setiap tahapan 1 jam. Sisanya? Definitely, talking. Namun entah mengapa saya tidak merasa bosan sama sekali, karena pembicaan mereka bukan 'gossiping'. Mereka bercerita tentang liburan ke luar negeri, sejarah kota Benalla, Pahlawan Australia, perang dunia, musik, rumah, sampai ke masalah bunga mawar yang hampir mati. Seru sekali.

Host family saya, Bu Josie akan kedatangan satu siswa dari Sulawesi ke rumahnya. She didn't know much about Sulawesi. This afternoon she showed me a Sulawesi Book and asked her husband, Terry, to do so. She said, "read this book, Dad! and I'll ask you questions about Sulawesi". Menarik sekali, untuk kedatangan seorang tamu yang akan tinggal selama 3 minggu saja mereka harus mempersiapkan mengisi kepala mereka dengan pengetahuan tentang Sulawesi dan sejarahnya. She said, "I want to know the place where she lives". 

Mantap, yah!
:)

6 November 2012

Count Us In 2012 - hundred schools in Australia sing this song!




Every year hundreds schools perform same song, on the same day, at the same time. 
On 1st of November 2012, all the students around Australia sang this song together written by three high school students from Australia. The purpose is to celebrate music education in schools. 

I went to school concert on that day and the students sang this song. It was awesome knowing that thousand students around Australia also did the same thing at the same time. 



Different People (stand together) lyric


are you ready, ready to dream, dream it right into reality
from the first time that you believe, it's something to hold on to

Hold your head high, take your chances
life is more about questions that answers
Whoever you are. Ooohh

Different people, different places
Stand together (we stand together)
Singing with one voice, nothing can ever stop us or hold us down
And though we may fall out of time
The rhythm's there for all of us to find

Is there something, something to see
Something so far that's just out of reach
I'm beside you, here where you stand
So come on and take my hand


Hold your head high, take your chances
life is more about questions that answers

Different people, different places
Stand together (we stand together)
Singing with one voice, nothing can ever stop us or hold us down
And though we may fall out of time
The rhythm's there for all of us to find




5 November 2012

My First Special Video - Happy Birthday!


Heyhoy!!

The video was made for my beloved Nur Budi Utomo for his 26th Birthday on 2nd of August 2012. It was located in Melbourne and Benalla and taken on July 2012 . I am not confident enough to upload this video on you tube so I decided to keep it here in my blog.

It doesn't look like professional one but still makes me proud!
Happy Birthday, Nduty!

4 November 2012

Di dalam tubuh yang sehat, terdapat makanan yang banyak.

Assalamualaikum,

alhamdulillah sudah sekitar 9 bulan saya mengarungi hidup di negeri koala ini dengan selamat. Masih selamat tidak kurang apapun, malah lebih segalanya. Ya lebih ilmunya, lebih makannya, lebih lemaknya #eh.

Omong-omong soal lebih, saya merasa lebih sehat juga. Dulu sewaktu di Indo saya termasuk yang paling langganan sakit, yah paling ngga hidung mampet setiap bulan. Waktu itu alasannya cuaca di Bandung ekstrim dan kalau malam dingin banget. Padahal kalau dibandingkan dengan cuaca Benalla, dinginnya udah bisa nandingin kulkas.

Benalla yang terletak tidak begitu jauh dari gunung membuat cuaca sedikit ekstrim. Yah walaupun ngga seekstrim cuaca di Australia selatan yang dekat Antartika, tapi hampir setiap hari suhunya bisa mencapai 2 derajat bahkan sampai -4 derajat musim dingin lalu. Namun alhamdulillah saya sehat wal afiat, selama 9 bulan di sini cuma mengalami sakit dua kali - itupun flu dan paling lama sekitar 2 hari. Dulu kalau udah sakit flu, jangan harap bisa sembuh dalam waktu kiurang dari 2 minggu. Parah banget kan.

Tidak dipungkiri lagi pola hidup saya sekarang ini bisa dibilang sangat sehat. Pola makan, tidur, dan olahraga sangat teratur. Hihihi. Efek lingkungan sekitar juga kali ya. Teman dan kolega di sini sangat mendukung untuk hidup sehat dan teratur.

Hidup LDR dari keluarga, pacar, dan teman-teman di Indonesia membuat saya mengerti pentingnya hidup sehat. Istilah sehat itu mahal memang benar. Di Australia ini segala serba mahal, termasuk ke dokter. Jadi diupayakan jangan sakit deh. Sekalinya ke dokter, bisa merogoh kocek ratusan dolar kalau sakitnya lumayan (lumayan parah maksudnya). Pernah suatu hari teman saya sakit gigi dan kalau dia check up ke dokter saja bisa menghabiskan uang sekitar $60, atau Rp 550.000,-. Itu baru check up saja, gimana kalau beli obat dan lain-lainnya ya. Untung saja giginya langsung sembuh. Pengertian juga tuh gigi. Tahu kalau harus ke dokter biayanya mahal, jadi tetiba langsung sembuh hanya dengan minum obat dari chemist.

Saya jadi teringat kejadian sekitar 5 tahun yang lalu sewaktu saya dirawat di rumah sakit karena gejala tipus. Sebenarnya kesalahan ada pada pola makan yang sangat buruk. Dalam waktu sehari, saya hanya makan satu kali. Tidak ada sarapan dan makan siang. Paling cuma makan malam saja. Saat itu kegiatan kemahasiswaan saya seabrek. Kuliah pagi sampai sore dan dilanjut dengan latihan angklung dan tari sampai malam. Alhasil saya terkapar di rumah sakit selama satu minggu. Singkat cerita, salah satu sahabat saya memberikan saya 'pola makan sehat' yang didapatnya dari radio. Beginilah kira-kira jadwalnya :

07.00 sarapan 
10.00 morning tea (makan makanan ringan)
13.00 lunch
16.00 afternoon tea (makan makanan ringan)
19.00 dinner
20.00 dessert 

Ternyata pola makan tersebut sama seperti yang dilakukan Australian. Mereka selalu makan tepat pada waktunya. Pemilihan makanan yang sehat juga sangat diperhatikan sekali. Apalagi untuk sarapan dipilihlah makanan yang berprotein tinggi penambah energi di pagi hari. Beginilah kira-kira menu makanan mereka.

sarapan : toast/muesli or porridge with honey,milk and fruit, coffee/tea
morning tea : coffee/tea and biscuits or fruit or peanuts
lunch : sandwich and fruit
afternoon tea : basically same as morning tea
dinner : big meals!!!
dessert : ice cream/cake

Nah, hidup sehat juga harus diimbangi dengan multivitamin dan olahraga yang teratur. Lumayan deh jogging atau biking seminggu dua kali bisa bikin badan semakin bugar. Jadi ngga perlu tuh diet-diet segala untuk mengurangi berat badan. 

Selamat mencoba!


15 October 2012

Bonjour!

Assalamualaikum,

Haihaihaihai! kali ini bahasannya sedikit agak serius nih. It's about education!

Jadi ceritanya saya dapet kesempatan untuk menghadiri Billingual School Workshop di Camberwell Primary School, Melbourne. Sekolah yang mempelajari bahasa Prancis sebagai bahasa kedua ini merupakan salah satu sekolah Bilingual terbaik di Victoria, bahkan Australia. The workshop entitled Improving Student Learning Outcomes in Bilingual Programs focus on developing skills in teaching and assessing Reading as well as provided teachers with an opprtunity to observe the French Bilingual Program.


taken from http://www.educationmelbourne.com.au/Eastern-Melbourne/Camberwell/Camberwell-Primary-School/36114


taken from Panoramio.com 
Tidak semua sekolah di Australia mendapatkan kesempatan hadir dalam workshop ini. Namanya saja bilingual program, berarti yang diundang hanya sekolah-sekolah bilingual. I was so lucky teaching at Benalla East Primary School, which is Indonesian Bilingual School. Di Australia, guru mendapatkan kesempatan untuk Professional Development (PD)  atau peningkatan keprofesionalan yakni dengan menghadiri workshop/conference secara gratis (sekolah yang membiayai). Saya pun sebagai asisten memiliki kesempatan yang sama. Ini merupakan PD ke-5 yang saya hadiri. Alhamdulillah saya belajar banyak hal melalui PD ini.

Anyway, workshop kali ini merupakan the best of the best! kenapa? the school is just amazing. The teachers speak in French all the time and so do the students - No English! It is very interesting workshop because the speakers did not just explain theoretically in front of the participants. We also had experience coming to each class and watched the students learning language directly. 

My first class was preparation (prep) class. The kids are around 6 years old. You know what? they just speak in French. Waktu itu mereka lagi belajar reading. Siswa dibagi menjadi tiga grup dan masing-masing mengerjakan tugas yang berbeda. Saya mendekati kelompok yang penuh dengan pensil berwarna. Rupanya mereka diberi tugas menggunting 'shapes', menempelkan pada buku, dan mewarnai gambar bentuknya. Kelompok yang kedua sibuk dengan latihan mengucapkan (pronounciation) dengan seorang guru yang menjelaskan dengan bahasa Prancis. Yang paling menakjubkan lagi adalah kelompok terakhir yang sedang berlatih membaca (literacy). Kelompok tersebut membahas sebuah buku cerita bergambar dalam bahasa Prancis. Sepertinya haram hukumnya bagi guru untuk berbicara bahasa Inggris di kelas. Hahahah..Keren nih sekolah.

Di kelas ini, tidak jarang siswa menjawab dengan bahasa Inggris. Lucu sekali mendengar guru dan siswa bercakap-cakap dengan dua bahasa yang beda. Yah namanya juga kelas prep, masih maklum deh. Sang guru berbicara bahasa target dan siswanya menjawab dengan bahasa Inggris. Namun yang pasti adalah the teachers try to build students' target language. Bahkan tidak jarang mereka menggunakan bahasa tubuh untuk membuat siswa mengerti. 

Kebayang kan, anak prep saja bisa berbahasa Prancis apalagi siswa kelas 6-nya. Ya benar saja, ketika saya masuk ke kelas yang lebih tinggi, yakni kelas 5 dan 6, ternyata mereka menggunakan bahasa Prancis 100%, bahkan saat berbicara dengan teman sekelasnya. Gile bener dah. Cas cis cus ces cos. Saya saja yang sebesar gini cuma ngerti bonjour doang.haha.

Ternyata kesuksesan sekolah ini pun terletak pada literacy programnya, dimana guru mengajarkan reading, writing, dan numeracy melalui bahasa prancis. Saat itu siswa kelas 6 sedang melakukan persiapan untuk presentasi. Jadi siswa dibagi menjadi dua kelompok untuk mengerjakan tugas yang berbeda. Kelompok pertama melakukan 'reading' bersama dengan gurunya menggunakan IPad, tentu saja menggunakan bahasa target. Kelompok kedua mendapatkan independent assignment yakni menyiapkan presentasi dengan cara yang berbeda. Ada beberapa macam how to present the topic yaitu dengan menyanyi, mendeskripsikan, menggunakan gesture tubuh, akting, story book, story teller, dan drama. Setiap siswa harus memilih satu dan mempersiapkannya untuk sharing session. Topiknya bisa apapun juga, sesuka hati siswa tersebut. Hal ini mendorong siswa untuk berpikir dan berekspresi lebih bebas disesuaikan dengan kesukaan mereka. Kewl!

Setelah melakukan adventure di setiap kelas, participants were divided to three groups and coming to the each spot at the hall. Semuanya tentang pembelajaran membaca, kali ini dalam mata pelajaran bahasa Inggris. Yang menarik adalah siswa yang akan belajar ketiga reading spots ini datang ke hall. Lagi dan lagi, speakers (teachers) tidak menjelaskan secara teori. Peserta melihat langsung pembelajaran reading itu seperti apa. It's like watching directly the teaching learning process in the classroom. Really really get the experience of teaching learning process! Really engaging.

The students are really brilliant. The teachers really make them becoming stars. Standing applause for both teachers and kiddos.

Entah kenapa jadi semakin terinspirasi untuk mengetahui pengajaran bahasa secara mendalam. Language is so complex but it could be more interesting, depending on the way teachers deliver the language itself. 

There are incredible teachers behind excellent students.and I wanna be the incredible one ;)

Cheers,
Muti

10 October 2012

Comfy Zone!

Rasanya baru kemarin saya menginjakkan kaki di belahan dunia yang penuh kangguru ini. Tidak sadar waktu berjalan dengan sangat cepat. Dipikir-pikir serem juga ya, kalau kata orang tua sih itu tandanya kiamat sudah dekat. Ya iyalah, mana mungkin kiamat menjauh. Yang saya rasakan memang sejak saya tinggal tinggal di sini, waktu itu berganti secepat kerlingan mata. Entah mungkin karena saya kerasan tinggal di sini kali ya. Temen-temen yang di Indonesia ngerasain hal yang sama nggak? 

Mendekati kepulangan ke tanah air membuat hati saya dag dig dug. Jujur saja, antara mau pulang dan tidak. heuheuheu.. yah, siapa sih yang ngga mau tinggal di negeri yang nyaman dan teratur seperti Australia. Pekerjaan (alhamdulillah) menjanjikan, masa depan dari segi hari tua terjamin (dengan adanya pensiunan), dan juga fasilitas semuanya oke. Walaupun setiap bulannya pendapatan selalu dipotong sepersekian puluh persen hanya untuk bayar pajak, asuransi, dan pensiunan, tapi semua itu akan berbalik ke kitanya loh. Semua akan balik lagi baik dalam bentuk uang maupun fasilitas. Saya hanya manusia normal yang juga masih memandang segalanya dari segi duniawi loh. hehe..

-Living in Australia is such living in comfy zone-

Ya, hampir semua orang Indonesia yang saya temui di sini mengatakan kalau tinggal di Ausi itu kaya hidup di zona nyaman. Ya iyalah gimana Melbourne ngga dijuluki the nicest city in the world tahun 2011 (versi The Economist Intelligence Unit's Global Livebility Report). And again it becomes the most livable cities in 2012. Well, walaupun saya tinggal di luar Melbourne tapi tetep aja kecipratan.hahha

Ngga heran juga banyak refugees yang berbondong-bondong datang dan menetap di Australia. Mungkin karena kenyamanan dan keamanannya. Pemerintahnya amat sangat melindungi warganya. Apalagi sama yang namanya anak-anak. Jangankan warga negaranya sendiri, orang luar yang mau menetap di sini untuk melindungi si anak dari ancaman negaranya pun akan dilindungi pemerintah. Makanya nih agak ribet juga kalau kerja di sekolah kaya saya yang berhubungan langsung dengan anak-anak. Kita harus memikirkan keselamatan, kesehatan, dan hak si anak. Jangan sampai si anak terluka atau tersakiti. Ini bukan cuma secara fisik saja ya, even hal-hal yang (dulu) menurut saya sepele seperti memfoto si anak dan mempublikasikannya tanpa izin orangtua pun bisa jadi kasus pelanggaran HAM. 

Anyway, balik lagi ke topik awal.Tinggal di zona nyaman ini bagi saya bisa ngasih sisi positive and negative. Positifnya ya hidup kita enak-enak aja - seperti yang saya jelaskan di atas. Minusnya, yang saya rasain sendiri jauh dari keluarga, teman-teman, dan sanak saudara. Serius, ngga enak juga loh. Apalagi setelah saya tau papah saya masuk Rumah Sakit karena menderita struk ringan. Ini membuat saya ingin pulang secepatnya.

Minus yang kedua adalah menghadapi ketakutan. Takut apa hayo?

Well, mungkin karena saya di sini menjadi kaum minoritas. Jangan salah sangka ya? Bukan berarti ini mengarah ke bullying nih. Kebetulan saya tinggal di kampungnya Oz. Haha..saya tinggal di kampung loh. Penduduknya saja hanya ada 2000 orang. Setiap saya ke luar rumah buat mejeng di cafe atau supermarket pasti banyak yang kenal. Dibilang enak ya enak banget deh. Saya satu-satunya muslim di sini. Jadi kaum minoritas takut ngga? Hmm..jujurnya ngga. Walaupun semua orang memandang kepala saya (jilbab) dengan aneh, saya merasa bangga. Walaupun saya harus curi-curi waktu buat solat di sekolah dan staf sekolah beserta siswa akan memperhatikan saya (saat solat), anehnya saya tidak merasa dikucilkan. Mereka (orang Ausi) bahkan ada yang sangat menyukai mukena saya. It's beautiful - they said. 

Saya ngga merasa ada masalah menjadi minoritas di tempat saya ini. Toh orang-orang di sini sangat menghargai sesamanya. Hablu minannas mereka bagus banget. Mungkin kalo ada nilai PKN, mereka bakal dapet nilai 100 untuk sikap. Hanya saja yang membuat sedih justru perasaan takut terlalu memikirkan duniawi. Well, saya di sini memang belajar bagaimana lebih bertenggang rasa dan menghormati sesama. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, mereka benar-benar memahami dan menerapkan HAM. Perasaan takut justru muncul dari dalam diri saya sendiri. Bukan desakan atau faktor eksternal. Memang benar kata orangtua, hidup di negeri orang harus kuat-kuat iman. Kalau saya bilang, di sini cobaan ibadahnya lebih diuji. Internal ujian. Jangan sampai ibadah berkurang. Justru harus semakin meningkat. Ketakutan jauhnya iman itu yang paling saya takutkan. 

Dulu saya suka males kalau pergi ke pengajian, sekarang saya rindu datang ke pengajian. Saya rindu suara adzan. Saya rindu solat berjamaah. Saya rindu buka puasa sunnah bersama keluarga. Saya rindu tadarusan. Aaaah...saya rindu Allah! Jagalah terus iman saya ya Allah. 

Note :
Ini coretan ceritanya curhatan saya semata. Mungkin isinya agak sedikit ngalor ngidul. Maaf ya Readers!

Wassalam.

7 October 2012

Daylight Saving - Spring Time

Assalamualaikum.

Tadi pagi seperti biasa saya selalu menyapa teman-teman Asisten melalui Whatsapp. Tema pagi ini adalah kebingungan menentukan waktu - yakni jarum jam pada jam tangan, jam dinding, dan handphone yang berbeda. Lucu sekali.  Kenapa? karena sebagian wilayah Australia memajukan satu jam dari zona waktu normal. Nah loh?

Daylight Saving Time (DST) atau bahasa bekennya penghematan waktu di siang hari.  Kalau kata Wikipedia, Daylight Saving Time (DST) itu sistem yang ditujukan untuk menyimpan cahaya siang hari di musim panas. Hal ini dimaksudkan agar orang memanfaatkan waktu siang agar lebih produktif. Atau menyesuaikan waktu sekolah/kerja saat matahari masih bersinar. Bisa juga ya seperti itu. 

DST dilakukan di wilayah yang memiliki 4 musim seperti Australia, Canada, Amerika, dan Eropa. Mulai hari ini waktu akan dimajuin satu jam untuk sebagian wilayah Australia termasuk Victoria. Gampangnya pada bulan April - 6 Oktober kemarin, perbedaan waktu Victoria Australia dengan Indonesia adalah 3 jam lebih cepat Australia. Sekarang perbedaan waktu wilayah Victoria dan Indonesia menjadi 4 jam lebih cepat Victoria. Nah, ini yang namanya DST. Kalau tadinya jam menunjukkan pukul 7, harus dimajukan jadi pukul 8.

Lebih mudah lagi kalau hapenya disetting secara otomatis (AEST-Australian Eastern Standard Time) mengikuti waktu setempat. Jadi ngga perlu repot-repot memajukan waktu. Hape akan otomatis bertambah sejam pada jam 3 pagi tadi.

Untuk wilayah Australia, DST dimulai pada waktu spring time sampai akhir summer. Untuk tahun 2012 ini, penghematan waktu siang berawal pada 7 Oktober 2012 pukul 2 pagi dan berakhir pada tanggal 7 April 2013 saat summer time. Hal ini dikarenakan pada bulan-bulan tersebut, matahari terbit dan terbenam lebih lama dari waktu normal - katakanlah biasanya matahari terbit jam 6 dan terbenam jam 5 atau 6 sore, pada spring dan summer time matahari bisa terbit sekitar pukul 7 dan terbenam pukul 8. 

Perubahan juga terjadi untuk waktu solat. Sebelumnya waktu solat lima waktu kurang lebih sama seperti di Indonesia. Sekarang berbeda sekali. weirdo time! 

Fajr      5:15 AM
Sunrise  6:43 AM
Ishraq   6:58 AM
Dhuhr  1:04 PM
Asr      5:35 PM
Magrib 7:25 PM
Ishaa    8:52 PM

Bersyukur juga kita yang tinggal di Indonesia ngga harus repot-repot mengubah waktu jam. Letaknya yang terdapat di garus khatulistiwa membuat waktu matahari terbit dan terbenam menjadi stabil - dari jam 6 sampai jam 6 lagi. Terus seperti itu setiap tahunnya. Yah paling juga berubah beberapa menit saja. Perbedaan waktu Indonesia-Victoria yang semakin jauh 4 jam membuat saya harus mengatur ulang saat harus berkomunikasi dengan keluarga, pacar, dan teman di Indonesia. Biasanya waktu Indonesia sekitar jam 5 sore saat sang pacar pulang kerja/kuliah saya masih bisa chatting sampai jam 7 malam atau jam 10 malam waktu  Victoria. Lha ini, sepertinya harus diatur kembali. 

Enaknya Daylight Saving Time itu ya waktu terasa lebih cepat. Jadi tiga bulan menuju kepulangan ke Indonesia tidak akan terasa begitu lama deh ;) 


Ciao!

8 September 2012

Everlater!

G'day, readers!

Salah satu pelajaran yang bisa diambil dari Aussie adalah travelling. Mereka suka sekali yang namanya travelling, apalagi ke luar negeri. Well... ngga bisa dipungkiri juga sih dari segi dolar ya lebih menguntungkan bagi mereka. Secara kalau mau kemana-mana ya murah, kecuali ke Eropa. Saking pentingnya travelling, malah ada yang rela meninggalkan sekolahnya sampai 1 term ( 3 bulan ) demi liburan keliling Australia. Anehnya lagi, sekolah benar-benar mengijinkan tanpa ada tugas apapun.WOW! Kalau di Indonesia bisa-bisa langsung dikeluarin tuh.  

Experience is the best teacher. Itu alasan sekolah mengijinkan mereka meninggalkan sekolah berbulan-bulan. Dengan travelling, sang guru berharap anak-anak mendapatkan pengalaman yang berharga. 

Delapan bulan tinggal di Ausi benar-benar telah membuka mata kalau ternyata banyak hal indah di luar sana. Setiap tempat memiliki sejarah tersendiri dan keunikan yang berbeda. different food, custom, religion, people, and cultures.Differences show the richness! dan travelling membuat kita kaya akan segalanya. Kaya ilmu, kaya pengalaman, kaya pengetahuan, kaya batin, dan kaya hati.  

After giving the trip project for year 9 students by using travel blog named everlater, I decided to post all of the place I've visited. I am being crazy about it and posting everything there! It's like online scrap-booking. awesome!

Here is my link, check it out!


Moethexplorer
“The journey of a thousand miles begins with a single step" - Lao Tzu

Ini adalah perjalanan pertamaku dan akan ada perjalanan lainnya yang menanti di depan mata. Allah creates the world with the beauty and wonderful places. It's too good to be ignored! St. Augustine said the world is a book and those who do not travel read only one page. I wanna be the one who opens all of the pages.

Ciao!


Ied Mubarak Part 2 - big girl doesn't cry!

Assalamualaikum,

Sedih rasanya mendengar suara orang tua di seberang sana. Sebelum solat Ied, aku memutuskan untuk menelepon orang tua di Jawa. Ini lebaran pertama jauh dari keluarga inti dan keluarga besar. Setiap tahunnya selalu pergi mudik ke rumah Mbah putri dan Mbah Kakung di Jawa. Always. 

Suara takbir di hall gedung primary School Westal benar-benar membuatku tak kuasa menahan tangis. Mamah, Papah..I miss you!

Homesick yaiy!
Big girl doesn't cry deh ya. My heart kept saying it loudly (loudly? gimana bisa coba?). Saking ku keukeuhna eta pengen nangis.

Anyway, stop talking about the sadness! 
Setelah solat ied dan morning tea di Westal, salah satu keluarga dari Yogya berbaik hati mau menampung kami di rumahnya. Mungkin wajah kami memelas gitu saking pengennya makan ketupat.Hihihi. Ada undangan gitu deh dari keluarganya murid ;p

Jadi ceritanya Aku dan teman-teman pernah mengikuti salah satu Indonesian Immersion Camp di Philip island. Pesertanya adalah lima sekolah dengan siswa kelas 8-10 yang belajar bahasa Indonesia di daerah Victoria selatan. Nah, pas di sana ada murid dengan wajah Indo dan memakai kerudung. Sebut saja Mutia (emang nama beneran loh). Dia siswa kelas 9 di salah satu sekolah di Melbourne. Walaupun dia asli orang Indo, tapi logat Ausinya kental sekali. Gue aja kalah sama dia.haha..ternyata eh ternyata dia tinggal di Australia sudah dari kelas 4 SD. Percampuran logat bahasa Indonesia dan Inggris Ausinya membuatku ngga percaya kalo dia orang Indonesia. Hehehe. 

Nah ternyata keluarga Mutia ini adalah salah satu jamaah di Mesjid Westall. Makanya waktu kami menghubungi Mutia untuk takbiran di sana, keluarganya mengundang kami untuk berkunjung di hari raya. Kami seneng banget pas diajakin. Maklum, sebagai anak rantau di negeri orang kami cuma punya tujuan menghabiskan waktu lebaran di Embassy (itu juga karena ada open house). 

Ibunda Mutia adalah salah satu mahasiswa Phd International Law di Monash University. Walaupun sudah lama tinggal di negeri orang, aksen Jawa masih terasa kental. Berasa pulang ke Jawa deh. Suasana rumahnya juga Indonesia banget. Entah mungkin karena isinya orang Indonesia semua kali ya. Bener deh, pas masuk ke rumahnya itu berasa berkunjung ke salah satu saudara di Jawa. Homey banget deh.


Ayah Mutia yang memang bekerja di pemerintahan sangat mengerti betul perkembangan negaranya. Aku ngga begitu ngerti dengan bidang pekerjaannya. Yang pasti beliau lebih mirip konsultan untuk negara Ausi untuk bagian penanaman saham. Beliau juga sebagai analis bisnis baik di dalam negeri maupun luar. Mudah-mudahan aja makes sense nih penjelasannya. 


Yang keren adalah mereka tetap menanamkan ilmu agama yang kuat kepada anak-anaknya. "Membesarkan anak di sini tidak mudah. Makanya harus tetap didekatkan dengan ilmu agama. Untung saja suka ada pengajian di mesjid Westall. Jadi anak kami terdidik juga agamanya". Ngeri juga ya kalau dibiarkan begitu saja, mengingat pergaulan bebas yang semarak di kalangan remaja Ausi. Alhamdulillah  walaupun terbilang masih belia, Mutia dan adiknya sudah mau pakai jilbab. Mutia juga tidak pernah merasa malu memakai jilbab diantara teman-temannya. Aku malah pernah liat dia dengan cueknya memakai bawahan mukenah pada saat dinner di camp. "I wear legging and it's too tight!", she said. Subhanallah, ini anak hebat banget.

with Mutia and sister,Pak Widodo, Bu Pudak, Akbar, Teja, Rizki (MIBT Students)
photographer kang Eduardo Morera juga mau dipoto (lihat yang tengah)
kalau ada undangan maen ke rumahnya lagi, serius deh aku ngga nolak. Secara di sana makan banyak banget. Ada lontong (mirip lontong), opor ayam, kerupuk, kue lebaran kaya castangle dan nastar, black forest, dan es buah. Yummm...Malah dibekelin opor ayam pula. Bener-bener ngerampok makanan orang nih kita. Tapi alhamdulillah masih merasakan nikmatnya berkumpul dengan orang Indonesia dan makan makanan lebaran. Benar-benar berada seperti di tengah keluarga. 

Alhamdulillahirabbil 'alamiin ya Allah atas nikmat yang Kau berikan di hari yang fitri ini.

Kebayang deh ya itu MIBT students yang masih harus menghabiskan 3 tahun ke depan di sini dan pastinya lebaran nanti mereka juga bakal tetap jauh dari keluarga. Kalau mereka, big boys don't cry!

Happy Iedul Fitri ;)
Mohon maaf lahir dan batin.

Wassalam,
Moethexplorer

26 August 2012

Guru Bantu UPI Diharapkan Tunjukkan Kinerja - Tribun Jabar :: Spirit Generasi Baru

Baru saya temukan link-nya.

Guru Bantu UPI Diharapkan Tunjukkan Kinerja - Tribun Jabar :: Spirit Generasi Baru

Ied Mubarak part 1

Assalamualaikum..

Allahu Akbar Allahu Akbar...adzan subuh muadzin mesjid membangunkanku pagi itu. Alhamdulillah, bisa tidur dengan nyenyak walaupun hanya beralaskan karpet dan sleeping bag ala kadarnya. Biasanya suka ngga bisa tidur kalo ngga nyaman. Entah efek cape ato emang karena tidurnya di rumah Allah jadi rasanya nikmat banget. Alhamdulillah...

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, Laaila ha illallahu Allahu Akbar..Allahu Akbar Wa Lillaahilham. Gema takbir mulai terdengar bersahut-sahutan setelah adzan berkumandang. Ya Allah, merinding dengernya. Ngga kerasa air mata jatuh dari pelupuk mataku. Rasa senang, terharu, dan sedih berkecamuk menjadi satu. Gembira rasanya bisa merasakan Iedul Fitri lagi, walaupun kali ini jauh dari rumah dan keluarga. Terharu juga bisa melewati Ramadhan di negeri orang dan sedih karena inget rumah. Whoaaaaaa T.T cediiiiih kaka....

'Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?'

Rasa syukur aku panjatkan kepada Allah Yang Maha Esa. Alhamdulillah Wa Syukurilah atas segala rizki dan nikmat yang telah diberikan padaku. Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah...Allah baik banget sama aku. Walaupun jauh dari keluarga, tapi masih diberi 'keluarga' di sini. Ada temen-temen seperjuangan yang soleh dan terus saling mengingatkan dalam kebaikan, ketemu sama orang Muslim kaya Pa Zamroni, Pa Medan, dan Pa Asep yang udah baik banget ngasih tempat tidur di mesjid, dan ada keluarga Indonesia juga yang mengundang kami ke rumahnya setelah solat Ied. Puji syukur pula karena orang-orang di Benalla udah baik banget sama aku. Kota itu udah kaya kampung halamanku di sini. 

Setelah solat subuh dan bersiap diri untuk solat Ied, lima cangkir teh manis sudah siap sedia di ruang solat wanita. Subhanallah, kalo lagi kaya gini kayanya kebaikan orang itu jelmaan malaikat. Well, setelah menyeruput teh anget kami langsung capcus ke gedung sekolah dekat mesjid. Pengurus mesjid sudah menyediakan tempat untuk solat di hall sekolah tersebut. Kaget banget ternyata banyak orang Indonesia di sana. Kayanya lebih dari 500 orang dan beberapa diantaranya cas cis cus bahasa Inggris. Udah ngga heran aja kalo denger anak kecil uda ngomong bahasa Inggris (udik gini saia). Kayanya sih tuh orang udah lama tinggal di sini. Hmmm..Melbourne ternyata populer juga di mata orang Indonesia. 

photo taken from Edwar Kartakusumah. Ini suasana solat Ied tampak depan.

penuh yah ruangannya. Ternyata ada juga loh yang kebagian tempatnya di luar;)

Setelah membayar zakat sebesar $12.5, kami bersiap untuk solat Ied. Eit, sambil nunggu solat dimulai jangan lupa dokumentasi dulu. Hahha..seperti biasa..namanya juga orang Indonesia, semua spot dipoto. Belum apa2 aja udah jeprat jepret sana sini. Dan ternyata eh ternyata walaupun udah lama tinggal di Australia, budaya poto-poto Indonesia masih melekat di hati mereka (Oops). Jadi wajar dooong (alibi!). 

taken from Anit Pranita Devi photo. Begayaaaa aja nih kite..
Semua prosesinya sama kaya solat di Indo (ya iyalah jelas). Semua berlangsung dengan khusyu dan khidmat. Daaaaan....saatnya salam-salaman. Taqaballahu minna wa minkum, temaaaan...Minal Aidzin wal Faidzin..Mohon maaf lahir dan batin ;) Walaupun ada rasa aneh yang biasanya dikelilingi keluarga, namun apa gunanya juga terus-terusan gundah gulana. Heu... Lebaran di Ausi juga senang-senang saja, alhamdulillah nikmat juga ko. Aura maaf-maafannya terasa juga. 

Ini lagi pada maaf-maafan
maaf-maafan part 2
Budaya Australia juga sudah mulai melekat, yaitu Morning Tea after solat Ied. yuhuuuu...I love morning tea! Di luar mesjid udah tersedia berbagai macam cakes. Senangnyaaaa..... Liat aja nih muka kita yang kaya orang kelaparan.

Serius amat ya bikin kopinya. Ini yang moto sang potografer handal dari Sukabumi, Edwar Kartakusumah.

cakes!
Suasana Morning Tea!
Alhamdulillah berkah lainnya adalah ketemu sama dosen UPI yang lagi kuliah di Monash University, Pak Abu dan Bu Isti. Jadilah Pa Abu ngajakin ngantri buat sesi poto. Hihihi..lucu juga. Jadi di hall ini ada tiga spot buat sesi foto-foto. 

photo session with Pak Abu.
with Bu Isti, Ciiiiiiiisssss ;)

Riana, Anit, Jeani, Edwar, Me, and Sri. Finally, punya foto berenam juga. 
Anyway, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H. 
Minal Aidzin wal faidzin, readers. 
Mohon maaf lahir batin ya ;)

Cheers!



25 August 2012

Malam Takbiran di Mesjid Westall

18 Agustus 2012,

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar...alhamdulillah bisa denger takbiran walaupun di negeri orang (baca : puter playlist). Alhamdulillah akhirnya bisa melalui Ramadhan dengan baik. Lulus juga geuning. Dulu sebelum pergi ke Ausi, yang paling ditakutkan adalah melalui bulan Ramadhan di sini. Tapi ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Alhamdulillah ya Rabb.

Lebaran!!! Horaaayyyyy!!!!
Ini nih masa-masa sulit yang aku dan teman-teman rasakan di sini. Demi merasakan nikmatnya takbiran di negeri orang, kami sengaja datang jauh-jauh ke Westall. Well, berhubung kemarin malam abis nonton footy (futbal Australia) yang berakhir terkapar di flatnya sri seharian. Akhirnya hari sabtu minggu lalu(hari terakhir puasa), kami memutuskan untuk malam takbiran di salah satu mesjid dekat Monash University. Lokasinya di daerah suburb Westall, makanya tuuh mesjid dinamain Mesjid Westall. Jarak yang ditempuh dari rumah Sri ngga jauh-jauh amat kalo pake mobil pribadi dengan kecepatan 100 km/jam bisa nyampe kira-kira 45 menit. Nah, kalo pake angkutan umum (baca : train, bus) bisa nyampe sekitar 2 jam. Hmmm...dua jam kaya jarak Jakarta-Bandung via tol Cipularang kaga pake macet dan itu kami lakukan demi takbiran. Subhanallah kan ya? 

jaid kira-kira rutenya seperti ini, dari Lower Plenty (daerah Sri) kami naik bus kira-kira 15-20 menit menuju stasiun daerah tersebut. Setelah menunggu kereta sekitar 15 menit, kami harus menunggu anotha 45 menit untuk sampai ke city/Melbourne (Southern Cross Station). Sesampainya di stasiun, masih harus ngejer kereta lagi ke arah Westall. Nah, perjalanan dari Melbourne ke Westallnya memakan waktu kira-kira 1 jam. Duduk manis aja deh di kereta. Enaknya pake kereta di Melbourne, walaupun ini kereta antar suburb tapi nyaman. Ngga jarang juga loh aku tidur di kereta. Sesampainya di stasiun Westall, kami harus jalan kaki sekitar 20 menit ala Indonesia atau 5 menit jalan ala Aussie. Udah tau kan klo orang Ausi jalannya kaya orang lompat. 

In front of Mesjid Westall
Nah, sampai juga deh kita di mesjid Westall. Alhamdulillah...
Mesjid yang sederhana ini adalah milik Indonesian Moslem Community of Victoria. Waktu itu sudah jam 5, namun tampak ngga ada tanda-tanda ada takbiran di sana. Ngga ada sendal pula di luar mesjid. Salah satu ciri tempat ada banyak pengunjung ato ngga diliat dari jumlah sendalnya.Hahahha...

Setelah melakukan aksi intip mengintip, ternyata ada beberapa orang yang sedang mengaji di dalam (Subhanallah) dan nekatlah kami ke pintu belakang mesjid. Di sana, kami bertemu dengan seorang pria yang kelihatannya sih ulama di mesjid itu. Tau ngga kenapa? Soalnya berkopeah dan berjanggut. Hehe..dan ternyata bener deh itu ulamanya. Namanya Pak Medan (aku lupa namanya, tapi seinget aku beliau dari Medan) *maksa. Usut punya usut, emang malem itu ada takbiran tapi dimulai sehabis Isya. Awalnya kami mau ke warung Pasta sebelah mesjid buat buka puasa, tapi alhamdulillah Pak Medan menawarkan kami untuk berbuka puasa di mesjid. Yipppiiiii..makan gratis. Nih ya, slogan tinggal di luar negeri : kalo ada yang ngajakin makan gratis jangan ditolak. Lumayan bisa ngirit sampe $10.

Orang-orang di mesjid itu ngga percaya loh kalo kami ini guru. Hhaha..mungkin karena size yang imut2 kali ya. Pas mereka dneger kalo kami bermalam di Eltham (Lower Plenty) which is far enough from there, they suggested us to stay a night in Mesjid. Eng ing eng...galau deh...solanya kami berencana besok pagi jam 6, kita capcus dari tempatnya Sri ke KJRI di Melbourne solanya lebih deket dari Eltham. Tapi problemonya, hari Minggu itu kereta baru beroperasi jam 7.15. Maklum, kalo di sini semakin libur semakin santai juga time table transportasi. Jadi kalo mau Melbourne kita harus naik taksi. Cukup mahal sih, sekitar $40. 

Bapak-bapak di sana baik banget mau nganterin ke Eltham cuma buat ngambil baju bedug a.k.a baju lebaran.hahhah. Ngga ding, kami semua ngga prepare buat nginep di mesjid, jadi semua perlengkapan mandi, solat, baju ganti ngga kebawa. Makanya Pak Zamroni (dari Cirebon) dan Pak Asep (dari Sumedang) mau mengantarkan kami ke Eltham pake mobilnya. Lucu aja gitu, kita rencana ke mesjid buat takbiran eh pas takbiran uda mulai malah capcus ke Eltham buat ngambil baju. Perjalanan lumayan jauh juga sekitar 45-1 jam. Seru juga sih malma takbiran di jalan.Hahahha..tapi ngga apa2, aku pikir itu bakal jadi malam yang subhanallah banget soalnya bakal takbiran semalaman di mesjid dan menginap di sana diiringi suara takbiran. Alhamdulillah..senengnya...Karena ngga mau ketinggalna takbiran, sesampainya rumah Sri langsung packed up kilat (15-20 menit doang) trus capcus lagi ke mesjid.

Di perjalanan juga seru banget. Pak Zamroni cerita kalau beliau udah 20 tahunan tinggal di Melbourne. Dulunya beliau seorang guru bahasa Indonesia di Melbourne, nah sekarangnya pengusaha jual beli mobil. Waaahh...subhanallah, ada juga orang Cirebon yang sukses di negeri orang (bangga sebagai orang Cirebon). Trus kalau Pak Asep yang dari Sumedang udah tinggal 3 tahun di sini. Dia adalah seorang atlit paralayang di Sumedang. Makanya kesininya pake visa atlit. Sekarang beliau bekerja sebagai cleaning. Jangan salah loh, cleaning di sini gajinya gede banget. Bahkan katanya sih lebih gede dari gaji guru (woooowww....). Tapi yang paling penting adalah perjuangan mereka yang ngga mudah. 

Pak Zamroni dan Pak Asep itu salah satu yang bisa dicontoh pemirsa. Mereka bilang hidup di negeri orang ini ngga mudah. Kalo ngga kuat-kuat iman ya kita bisa terjerumus ikut-ikutan budaya western juga. Makanya mereka memutuskan juga untuk jadi pengurus mesjid. Malah Pak Zamroni cerita kalau beliau mendirikan madrasah buat anak-anak juga di mesjid Westall. Orang tua yang bekerja atau kuliah di sini dan membesarkan anaknya di sini harus berusaha mantain keagamaan si anak. Emang ternyata susah loh. Secara lingkungannya kan beda. Bahasanya aja udah beda. Waktu pertama kali aku ke Westall dan nemu bocah-bocah Indo umur 3-6 tahun. Takjub saya denger mereka maen perang-perangan pake bahasa Inggris. Buseeeet, gue juga kalah nih klo disuruh perang-perangan berbahasa Inggris >.< 

Anyway, sesampainya di mesjid lagi skitar jam 22.00 dan takbirannya udah beres deh. Kami ngga tau kalo ternyata takbirannya dimulai jam 19.30 dan berakhir pukul 21.00. Ya Tuhan, emang ya harusnya kalo ada informasi apapun harus komprehensif dan jelas semuanya. Jadinya ya gini deh, takbiran kaga eh malah nginep di mesjid. Alhasil kita takbirannya sambil buka billboard mp3. Malam takbiran kali ini bener-bener bakal keinget terus sampe ntar ;)

Met Lebaran semua....




About Me

My photo
Benalla, Victoria, Australia
a 26 yo teacher student. Currently working on thesis in Teaching English and willing to graduate before June 2015. Love coffee, food, and movie. Trying to be grateful what I have and done.

Followers